Berita

Tingkatkan Pelayanan, Bea Cukai Jakarta Adakan Workshop Service Level Agreement

Kepala Subseksi Hanggar Pabean dan Cukai, Diyah Jeki Cahyandari, saat menyampaikan materi SLA.
Kepala Subseksi Hanggar Pabean dan Cukai, Diyah Jeki Cahyandari, saat menyampaikan materi SLA.

 

Jakarta – Sebagai upaya peningkatan pelayanan kepada stakeholder,  Bea Cukai Jakarta mengadakan  workshop Service Level Agreement (SLA) pada Selasa (22/1/2019). Secara singkat, SLA dapat diartikan sebagai kesepakatan tingkat layanan, yaitu bagian dari perjanjian layanan secara keseluruhan antara 2 dua entitas untuk peningkatan kinerja, dalam hal ini antara Kantor Bea Cukai Jakarta dengan pengguna jasa.

Pada kegiatan ini, disampaikan mengenai etika bekerja dan standar pelayanan di kantor bea cukai, diantaranya yaitu tata cara menyambut tamu, etika penampilan dan berpakaian, serta bagaimana kita bersikap dan menyampaikan informasi.

Kepala Subseksi Hanggar Pabean dan Cukai, Diyah Jeki Cahyandari, selaku narasumber dalam workshop ini menyampaikan SLA menjadi bagian penting dalam standar pelayanan yang diberikan kepada pengguna jasa.

“Pengguna jasa membutuhkan kepastian dalam setiap pelayanan yang diberikan, semisal saat diminta menunggu, kita harus sampaikan dengan tepat dan jelas berapa lama dia akan menunggu, 30 menit kah, 45 menit kah,” ujar  Diyah.

Tidak hanya itu, ia melanjutkan, penampilan pegawai baik saat bertemu pengguna jasa atau tidak harus sesuai dengan prosedur sesuai perdirjen. “Untuk laki-laki rambut dipotong rapi, pendek, menggunakan sepatu pantofel bertali dengan kaus kaki sebetis,” papar Diyah.

Diyah menuturkan, untuk perempuan ada yang berhijab dan tidak, ada sedikit perbedaan. Untuk non-hijab menggunakan seragam lengan pendek dengan rok pendek 7 cm di bawah lutut,  pantofel dengan hak 3 cm tanpa menggunakan kaus kaki.  Untuk yang berhijab, kerudung berwarna hitam dengan dalaman kerudung berwarna hitam, seragam lengan panjang dengan rok sampai mata kaki, sepatu pantofel dengan menggunakan kaus kaki.

“Untuk larangan dan kewajiban dalam tata cara pakaian dinas, semua sudah lengkap dan jelas dalam perdirjen 03/BC/2014, nanti dibaca lagi ya lengkapnya,” imbau Diyah kepada seluruh peserta.

Penampilan, menurut Diyah, walaupun tidak akan mengubah karakter, namun menjadi komponen penting saat bertatap muka dengan pengguna jasa. “First impression atau kesan pertama, seperti namanya tidak akan terulang, maka hal itu menjadi penting saat kita berpenampilan dengan rapi, menggunakan atribut lengkap, dan sesuai dengan aturan,” ungkapnya.

Diselenggarakannya kegiatan ini diharapkan dapat dipraktikan dalam bekerja sehari-sehari. Sehingga, pelayanan yang prima terus dapat dipertahankan. “Pelayanan prima menjadi hal yang sangat penting sebagai bagian dari upaya re-branding bea cukai makin baik di masyarakat,” pungkas Diyah.