Berita

Bea Cukai Jakarta Gelar Asistensi LACK-11

 

Jakarta – Guna meningkatkan kepatuhan dalam melakukan pencatatan dan pelaporan catatan sediaan barang kena cukai atau LACK-11, Bea Cukai Jakarta bersama Direktorat IKC dan Direktorat Fasilitas Cukai menggelar asistensi dan implementasi LACK-11 pengusaha tempat penjualan (TPE).

Kepala Kantor Bea Cukai Jakarta, Untung Purwoko mengatakan pencatatan dan pelaporan LACK-11 sudah mandatory sejak 1 mei 2020. Namun, dari 790 pengusaha yang telah mempunyai NPPBKC, baru 50 TPE yang sudah melakukan pencatatan melalui Exsis Online.

“Setelah kegiatan ini, diharapkan dapat bertambah, seharusnya sudah semua TPE melakukan pencatatan dan pelaporan LACK-11 melalui aplikasi exsis online,” papar Untung.

Pada momen yang sama, Kepala Seksi Pengembangan Sistem Informasi, Didit Rudy Setyawan mengimbau kepada seluruh pengusaha untuk memiliki komitmen yang sama untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan peredaran minuman mengandung etil alkohol (MMEA) ilegal.

“Melalui pencatatan dan penyampaian LACK-11 melalui aplikasi cukai online, kami dapat menganalisis data yang menunjukkan situasi peredaran MMEA di Jakarta,” ungkap Didit.

Didit melanjutkan, melalui portal pengguna jasa, pengusaha dapat mengakses beberapa aplikasi, dalam hal ini yaitu pelayanan cukai online dan billing online apabila ada pembayaran yang harus dilakukan.

“Semua yang sudah memiliki NPPBKC, wajib melakukan registrasi di cukai online,” tegasnya.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Seksi Kepatuhan Pengusaha Barang Kena Cukai, Achmad Sandri Qurnain menambahkan, walaupun bukan pembayar cukai penting bagi pengusaha TPE untuk patuh melakukan pencatatan dan pelaporan untuk mengontrol jangan sampai ada MMEA ilegal.

“Penyampaian data melalui aplikasi ini memudahkan pengusaha melalukan pencatatan dan pelaporan agar dapat meningkatkan kepatuhan pengusaha BKC, selain itu menjadi database berbasis excel yang mudah untuk diolah,” tandas Sandri.