Berita

Bea Cukai Jakarta Gelar Focus Group Discussion (FGD) Kebijakan Menangani Pandemi Covid-19

Jakarta – Bea Cukai Jakarta menggelar Focus Group Discussion (FGD) tentang Kebijakan Keuangan Negara sebagai Crisis Relief dalam Menangani Pandemi Covid-19, Jumat (12/6). Kepala Kantor Bea Cukai Jakarta, Untung Purwoko memimpin langsung jalannya diskusi yang diikuti oleh seluruh pegawai Bea Cukai Jakarta.

 Untung menyampaikan bahwa pandemi covid-19 yang telah menyebar ke seluruh dunia memberikan efek domino pada aspek sosial, ekonomi dan keuangan. Di Indonesia pandemi covid-19 masih eskalatif, dimana 18 Wilayah telah melakukan PSBB, termasuk DKI Jakarta dan Jawa Barat.

“Pandemi covid-19 memberikan tekanan kepada perekomonian baik dari sisi supply maupun demand,” ungkap Untung.

 Untung memaparkan, ekonomi global mengalami resesi di 2020 dan pulih di 2021. Namun, ketidakpastian masih tinggi dan risiko lambatnya recovery tetap perlu diwaspadai. Ancaman resesi dan stabilitas sistem keuangan mendorong diambilnya langkah extraordinary, 193 negara telah mengeluarkan total stimulus $8 triliun atau hampir setara 10% PDB global. Di Indonesia, proyeksi pertumbuhan ekonomi 2020 sebelum covid-19 sebesar 5,3%, sesudah covid-19 menjadi 2,3%.

“Dampak pandemi covid-19 yang menghentikan sebagian besar aktivitas ekonomi,” paparnya.

Eskalasi COVID-19 dan perlambatan ekonomi yang tajam harus dimitigasi dampaknya pada kesejahteraan masyarakat – melalui kebijakan extraordinary. Dengan berbagai langkah extraordinary, Pemerintah berupaya menjaga agar pertumbuhan dan dampak kesejahteraan tidak menuju skenario sangat berat.

Lalu, apa yang dilakukan pemerintah? Pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan dalam penanganan COVID-19 yang berfokus pada kesehatan, jaring pengaman sosial, dukungan industri serta UMKM, dan pembiayaan dukungan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Melalui FGD ini, diharapkan dapat meningkatkan pemahaman seluruh pegawai dalam pelaksanaan kebijakan ekonomi penanganan covid-19.