Berita

Bogor - Bea Cukai Jakarta mengawasi secara langsung proses pemusnahan minuman mengandung etil alkohol (MMEA) milik PT Pantja Artha Niaga di fasilitas greenzone PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), Narogong, Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/8).

Kepala Subseksi Hanggar Pabean dan Cukai, Muhammad Iqbal Reza menyampaikan sebanyak 84.000 botol MMEA dimusnahkan karena telah memasuki masa kadaluarsa. Proses pemusnahan disaksikan langsung oleh petugas bea cukai guna memastikan proses pemusnahan dilaksanakan dengan benar dan sesuai prosedur.

“Selain diawasi secara langsung agar tidak disalahgunakan, proses pemusnahan MMEA juga dilakukan dengan metode pengolahan limbah yang aman dan ramah lingkungan,” ujar Iqbal.

Operational & Field Services Manager PT SBI, Danang Wibawa mengatakan pemusnahan tersebut dilakukan dengan metode Co-Processing yaitu menggunakan tanur semen milik PT Solusi Bangun Indonesia yang bersuhu tinggi.
“Dengan suhu mencapai 2.000 derajat celcius dan stabil, dapat memusnahkan limbah tanpa meninggalkan residu apa pun,” tandasnya.

Bogor - Bea Cukai Jakarta mengawasi secara langsung proses pemusnahan minuman mengandung etil alkohol (MMEA) milik PT Pantja Artha Niaga di fasilitas greenzone PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), Narogong, Bogor, Jawa Barat, Selasa (11/8).

Kepala Subseksi Hanggar Pabean dan Cukai, Muhammad Iqbal Reza menyampaikan sebanyak 84.000 botol MMEA dimusnahkan karena telah memasuki masa kadaluarsa. Proses pemusnahan disaksikan langsung oleh petugas bea cukai guna memastikan proses pemusnahan dilaksanakan dengan benar dan sesuai prosedur.

“Selain diawasi secara langsung agar tidak disalahgunakan, proses pemusnahan MMEA juga dilakukan dengan metode pengolahan limbah yang aman dan ramah lingkungan,” ujar Iqbal.

Operational & Field Services Manager PT SBI, Danang Wibawa mengatakan pemusnahan tersebut dilakukan dengan metode Co-Processing yaitu menggunakan tanur semen milik PT Solusi Bangun Indonesia yang bersuhu tinggi.
“Dengan suhu mencapai 2.000 derajat celcius dan stabil, dapat memusnahkan limbah tanpa meninggalkan residu apa pun,” tandasnya.

Jakarta – Bea Cukai Jakarta kunjungi Tempat Penjual Eceran (TPE) berikan penyuluhan terkait kewajiban pencatatan yang harus dilakukan oleh pengusaha kena cukai (BKC) yang memiliki Nomor  Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC). Kunjungan yang dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 24 Juli 2020 ini merupakan salah satu program bea cukai yaitu Customs Visit Customer (CVC).

Pencatatan Pengusaha TPE MMEA mencakup catatan sediaan MMEA (CSCK-5) serta melaporkan atas pencatatan dilakukan (LACK-11) setiap tiga bulan kepada kantor Bea Cukai yang mengawasi.

Terhadap pengusaha yang wajib pencatatan namun tidak menyelenggarakan pencatatan dimaksud, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Hal ini berdasarkan pada peraturan menteri keuangan (PMK) Nomor 94/PMK.04/2018 tentang Kewajiban Melakukan Pencatatan Bagi Pengusaha Pabrik Skala Kecil, Penyalur Skala Kecil Yang Wajib Memiliki Izin, dan Pengusaha Tempat Penjualan Eceran Yang Wajib Memiliki Izin.

Pada momen yang sama, Bea Cukai Jakarta menjelaskan kepada pengusaha terkait keaslian pita cukai. Bagaimana cara mengidentifikasi pita cukai, asli atau palsu serta penggunaan pita cukai yang sesuai peruntukkannya. Pada edisi tahun 2020, pita cukai memiliki tema “RI75” yang bertepatan dengan tahun kemerdekaan yang ke-75.

Secara sederhana, pita cukai diidentifikasi secara kasat mata terlihat pita cukai menggunakan kertas dengan warna dasar kehijauan dan serat berwarna merah. Serta terlihat watermark atau tanda air bertuliskan RI75. Diharapkan pengusaha mengetahui pita cukai melekat pada MMEA adalah asli dan benar.

Jakarta – Mendukung kemudahan izin usaha di bidang cukai, Bea Cukai Jakarta menggelar acara sosialisasi bertajuk “Optimalisasi Kemudahan Pengurusan Perizinan Usaha di Bidang Cukai.”

Kepala Kanwil DJBC Jakarta, Decy Arifinsjah mengatakan pertemuan ini digelar guna mendengar langsung aspirasi serta kendala yang dihadapi pelaku usaha di bidang cukai yang terdampak pandemi covid-19.

Jakarta – Bea Cukai Jakarta kunjungi Tempat Penjual Eceran (TPE) berikan penyuluhan terkait kewajiban pencatatan yang harus dilakukan oleh pengusaha kena cukai (BKC) yang memiliki Nomor  Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC). Kunjungan yang dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 24 Juli 2020 ini merupakan salah satu program bea cukai yaitu Customs Visit Customer (CVC).

Pencatatan Pengusaha TPE MMEA mencakup catatan sediaan MMEA (CSCK-5) serta melaporkan atas pencatatan dilakukan (LACK-11) setiap tiga bulan kepada kantor Bea Cukai yang mengawasi.

Terhadap pengusaha yang wajib pencatatan namun tidak menyelenggarakan pencatatan dimaksud, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Hal ini berdasarkan pada peraturan menteri keuangan (PMK) Nomor 94/PMK.04/2018 tentang Kewajiban Melakukan Pencatatan Bagi Pengusaha Pabrik Skala Kecil, Penyalur Skala Kecil Yang Wajib Memiliki Izin, dan Pengusaha Tempat Penjualan Eceran Yang Wajib Memiliki Izin.

Pada momen yang sama, Bea Cukai Jakarta menjelaskan kepada pengusaha terkait keaslian pita cukai. Bagaimana cara mengidentifikasi pita cukai, asli atau palsu serta penggunaan pita cukai yang sesuai peruntukkannya. Pada edisi tahun 2020, pita cukai memiliki tema “RI75” yang bertepatan dengan tahun kemerdekaan yang ke-75.

Secara sederhana, pita cukai diidentifikasi secara kasat mata terlihat pita cukai menggunakan kertas dengan warna dasar kehijauan dan serat berwarna merah. Serta terlihat watermark atau tanda air bertuliskan RI75. Diharapkan pengusaha mengetahui pita cukai melekat pada MMEA adalah asli dan benar.