Berita

Jakarta – Mendukung kemudahan izin usaha di bidang cukai, Bea Cukai Jakarta menggelar acara sosialisasi bertajuk “Optimalisasi Kemudahan Pengurusan Perizinan Usaha di Bidang Cukai.”

Kepala Kanwil DJBC Jakarta, Decy Arifinsjah mengatakan pertemuan ini digelar guna mendengar langsung aspirasi serta kendala yang dihadapi pelaku usaha di bidang cukai yang terdampak pandemi covid-19.

Selengkapnya...

Jakarta – Bea Cukai Jakarta kunjungi Tempat Penjual Eceran (TPE) berikan penyuluhan terkait kewajiban pencatatan yang harus dilakukan oleh pengusaha kena cukai (BKC) yang memiliki Nomor  Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC). Kunjungan yang dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 24 Juli 2020 ini merupakan salah satu program bea cukai yaitu Customs Visit Customer (CVC).

Pencatatan Pengusaha TPE MMEA mencakup catatan sediaan MMEA (CSCK-5) serta melaporkan atas pencatatan dilakukan (LACK-11) setiap tiga bulan kepada kantor Bea Cukai yang mengawasi.

Terhadap pengusaha yang wajib pencatatan namun tidak menyelenggarakan pencatatan dimaksud, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Hal ini berdasarkan pada peraturan menteri keuangan (PMK) Nomor 94/PMK.04/2018 tentang Kewajiban Melakukan Pencatatan Bagi Pengusaha Pabrik Skala Kecil, Penyalur Skala Kecil Yang Wajib Memiliki Izin, dan Pengusaha Tempat Penjualan Eceran Yang Wajib Memiliki Izin.

Pada momen yang sama, Bea Cukai Jakarta menjelaskan kepada pengusaha terkait keaslian pita cukai. Bagaimana cara mengidentifikasi pita cukai, asli atau palsu serta penggunaan pita cukai yang sesuai peruntukkannya. Pada edisi tahun 2020, pita cukai memiliki tema “RI75” yang bertepatan dengan tahun kemerdekaan yang ke-75.

Secara sederhana, pita cukai diidentifikasi secara kasat mata terlihat pita cukai menggunakan kertas dengan warna dasar kehijauan dan serat berwarna merah. Serta terlihat watermark atau tanda air bertuliskan RI75. Diharapkan pengusaha mengetahui pita cukai melekat pada MMEA adalah asli dan benar.

Jakarta, 16 Juli 2020 – Bea Cukai Jakarta melakukan kunjungan ke tempat penjualan eceran (TPE) minuman mengandung etil alkhol (MMEA). Melalui kegiatan customs visit customer (CVC), Bea Cukai Jakarta memberikan penyuluhan dan pendampingan kepada pengguna jasa terkait aturan dan kewajiban sebagai TPE MMEA.

Pada momen ini, disampaikan kepada pengusaha barang kena cukai (BKC) yang telah memiliki Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) memiliki kewajiban untuk melakukan pencatatan. Pencatatan Pengusaha TPE MMEA mencakup catatan sediaan MMEA (CSCK-5) serta melaporkan atas pencatatan dilakukan (LACK-11) setiap tiga bulan kepada kantor Bea Cukai yang mengawasi.

Tidak hanya itu, Bea Cukai Jakarta menjelaskan kepada pengusaha terkait keaslian pita cukai. Bagaimana cara mengidentifikasi pita cukai, asli atau palsu serta penggunaan pita cukai yang sesuai peruntukkannya. Pada edisi tahun 2020, pita cukai memiliki tema “RI75” yang bertepatan dengan tahun kemerdekaan yang ke-75. Secara sederhana, pita cukai diidentifikasi secara kasat mata terlihat pita cukai menggunakan kertas dengan warna dasar kehijauan dan serat berwarna merah. Serta terlihat watermark atau tanda air bertuliskan RI75. Diharapkan pengusaha mengetahui pita cukai melekat pada MMEA adalah asli dan benar.

Perdana sejak pandemi covid-19 melanda negeri, dalam kunjungan ini petugas BC Jakarta tetap menggunakan masker. Selama sepekan ini, beberapa TPE yang dikunjungi tersebar di beberapa wilayah pengawasan BC Jakarta di antaranya yaitu Menteng, Kuningan, Sudirman, dan Melawai.

Diharapkan, melalui kegiatan CVC potensi pelanggaran yang dapat terjadi dapat dihindari dan tentu meningkatkan kepatuhan pengguna jasa terkait peraturan yang berlaku.

Jakarta – Bea Cukai Jakarta kunjungi Tempat Penjual Eceran (TPE) berikan penyuluhan terkait kewajiban pencatatan yang harus dilakukan oleh pengusaha kena cukai (BKC) yang memiliki Nomor  Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC). Kunjungan yang dilaksanakan pada tanggal 20 s.d. 24 Juli 2020 ini merupakan salah satu program bea cukai yaitu Customs Visit Customer (CVC).

Pencatatan Pengusaha TPE MMEA mencakup catatan sediaan MMEA (CSCK-5) serta melaporkan atas pencatatan dilakukan (LACK-11) setiap tiga bulan kepada kantor Bea Cukai yang mengawasi.

Terhadap pengusaha yang wajib pencatatan namun tidak menyelenggarakan pencatatan dimaksud, dikenai sanksi administrasi berupa denda sebesar Rp10.000.000,- (sepuluh juta rupiah). Hal ini berdasarkan pada peraturan menteri keuangan (PMK) Nomor 94/PMK.04/2018 tentang Kewajiban Melakukan Pencatatan Bagi Pengusaha Pabrik Skala Kecil, Penyalur Skala Kecil Yang Wajib Memiliki Izin, dan Pengusaha Tempat Penjualan Eceran Yang Wajib Memiliki Izin.

Pada momen yang sama, Bea Cukai Jakarta menjelaskan kepada pengusaha terkait keaslian pita cukai. Bagaimana cara mengidentifikasi pita cukai, asli atau palsu serta penggunaan pita cukai yang sesuai peruntukkannya. Pada edisi tahun 2020, pita cukai memiliki tema “RI75” yang bertepatan dengan tahun kemerdekaan yang ke-75.

Secara sederhana, pita cukai diidentifikasi secara kasat mata terlihat pita cukai menggunakan kertas dengan warna dasar kehijauan dan serat berwarna merah. Serta terlihat watermark atau tanda air bertuliskan RI75. Diharapkan pengusaha mengetahui pita cukai melekat pada MMEA adalah asli dan benar.

Jakarta – Bea Cukai Jakarta menggelar sharing session dengan topik Mitigasi Risiko Dampak COVID-19 terhadap Proses Bisnis Perusahaan, Rabu (8/7). Dipimpin oleh Kepala Kantor Bea Cukai Jakarta, Untung Purwoko sedikitnya 29 importir dan pengusaha Pusat Logistik Berikat (PLB), diundang untuk mengikuti acara yang dihelat melalui aplikasi video conference berbasis daring.

“Selama melanda lebih kurang tiga bulan terakhir, Covid-19 membawa dampak yang besar pada perekonomian negara,” ujar Untung Purwoko.

Untung melanjutkan, salah satu yang terdampak covid-19 yaitu kegiatan bisnis perusahaan, khususnya terkait importasi barang.

“Utamanya, permintaan pasar yang menurun menjadi penyebab berkurangnya kontribusi pada penerimaan negara,” ungkapnya.

Memasuki masa new normal ini, diharapkan roda bisnis perusahaan dapat terkerek naik seiring pulihnya laju perekonomian nasional.

Dalam kesempatan ini, keluhan dan kendala yang disampaikan perusahaan menjadi aspirasi Bea Cukai Jakarta dalam membantu proses bisnis yang terganggu akibat Covid-19.